Kolom

“Ketika Cahaya Bangkit dari Dalam”

Published

on

Oleh: Brigjen Purn. MJP Hutagaol

Di negeri yang diciptakan Tuhan dengan tangan penuh kasih,
pohon-pohon masih menyimpan bisik leluhur,
dan ombak masih menghafal nama
mereka yang menjaga tanah air ini dengan tulus.

Namun zaman bergerak seperti roda langit:
ada masa ketika kejujuran diagungkan,
ada pula masa ketika kebohongan
disebut kecerdikan.
Bangsa pun berjalan tertatih,
seperti manusia yang kehilangan arah pulang.

Dalam sunyi malam,
roh bumi berbisik kepada mereka yang mau mendengar:
“Apa pun yang dibangun dari keserakahan
akan tibo—jatuh—dan pecah oleh dirinya sendiri.”

Begitulah hukum alam:
lebih tua dari kitab,
lebih tegas dari pengadilan mana pun.
Yang curang akan tumbang oleh kecurangannya,
yang menindas akan tersungkur oleh bayangannya sendiri.

Para Mpu dahulu berpesan:
“Jangan takut pada gelapnya zaman,
karena gelap hanyalah jeda sebelum matahari.”
Petuah itu kini terdengar lebih benar
daripada gemuruh berita yang saling menggigit.

Di tengah hiruk-pikuk kepentingan,
tanda-tanda kecil tak dapat lagi dibungkam:
keburukan lama yang tersembunyi
mulai diangkat satu demi satu ke cahaya.
Yang dulu dirahasiakan kini diperiksa,
yang dulu dilindungi kini dipertanyakan.
Kebenaran memang lambat,
namun tak pernah berhenti berjalan.

Dalam lembaran tua Jayabaya,
terdapat sanepo yang lembut namun tajam:
“Pada suatu masa negeri terhuyung
bagaikan perahu tua,
karena nahkodanya lupa arah,
dan awaknya sibuk menghitung emas.”
Namun pada bagian akhirnya,
ada bisikan yang lebih teduh:
“Dan Tuhan akan membangunkan hati
mereka yang rendah
yang menyelamatkan negeri
dengan kesunyian.”

Cahaya tidak selalu lahir dari singgasana—
sering ia muncul dari hati yang tetap lurus
di tengah dunia yang melengkung.
Dari doa para ibu,
dari langkah orang kecil yang jujur,
dari jiwa-jiwa yang tidak ingin dipuji
namun tetap setia menjaga bangsa ini
dengan kesabaran dan keikhlasan.

Sebab negara tidak tegak oleh teriakan,
melainkan oleh keluhuran budi.
Dan keluhuran budi adalah ibadah
yang tak dapat dipadamkan siapa pun.

Maka ketika malam terasa panjang,
ingatlah:
Tuhan tidak pernah jauh.
Ia bekerja dalam diam,
mengangkat yang ikhlas,
meruntuhkan yang zalim,
dan membalikkan keadaan
ketika waktunya genap.

Dan kelak, ketika fajar itu tiba—
entah pagi, entah senja—
Indonesia akan bangkit kembali
bukan karena kekuatan manusia,
melainkan karena cahaya
yang hidup kembali
di dalam jiwa bangsanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version