Donald Trump Dipecat Kongres AS

 Donald Trump Dipecat Kongres AS

Donald Trump. (foto: nbc news)

Jayakarta News – Presiden AS Donald Trump resmi dipecat oleh Kongres AS. Dia jadi presiden AS ketiga, sepanjang lebih dari 200 tahun sejarah, yang dimakzulkan oleh Kongres. Setelah keputusan ini, proses pemakzulan akan berlangsung dalam sidang pengadilan Senat –catatan; Senat AS bisa saja menolak dan Trump bisa tetap jadi presiden seperti kasus Bill Clinton.

Kongres AS atau DPR, Rabu 18 Desember 2019 malam, memutuskan pemakzulan Trump setelah melalui pemungutan suara; 230 – 197 atas tuduhan penyalah-gunaan kekuasaan. Trump dinyatakan terbukti bersalah telah menyalah-gunakan kekuasaan dan menghalangi kerja Kongres.

Dalam drama pemungutan suara ini, dua wakil Partai Demokrat –Collin Petterson (Minn) dan Jeff Van Drew (N.J) memberikan suara menolak pemecatan bersama-sama dengan seluruh anggota dari Partai Republik. Bakal calon presiden Partai Demokrat, Tulsi Gabbard dari Hawaii memilih ‘hadir’ atau absen dan mantan anggota Partai Republik, yang sekarang independen, Justin Amash dari Michigan memilih untuk memakzulkan Trump.

Kongres, dalam kasus menghalangi kerja atau pengawasan Kongres, memberi suara 229 – 198 untuk memecat Trump. Semua anggota Kongres memilih seperti pemungutan suara pertama kecuali Jared Golden (Parta Demokrat dari Maine) yang memilih menolak bersama anggota Partai Republik lainnya.

Partai Demokrat menuduh presiden secara tidak sah telah meminta pemerintah negara asing (dalam hal ini Ukraina) untuk menyelidiki lawan utama pesaing dalam pemilu 2020 mendatang, mantan Wakil Presiden Joe Biden. Serta memberi persyaratan bantuan AS sebesar 391 juta dolar baru dicairkan kalau Ukraina melakukan penyelidikan. Mereka juga menuduh presiden telah melakukan tindakan-tindakan yang menghalangi penyidikan Kongres atas pemerintahannya. Gedung Putih, selama ini, menolak menyerahkan dokumen apapun yang berkaitan dengan penyelidikan untuk pemakzulan dan para pejabat Trump juga tidak bersedia datang ke sidang Kongres untuk memberikan kesaksiannya.

Bukti kunci, yang mendukung tuduhan Partai Demokrat, adalah percakapan telepon antara Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Dalam percakapan itu, setelah bantuan militer AS dibekukan, Trump meminta Zelensky ‘memberi layanan kepada kami’ untuk menyidik adanya dugaan Ukraina mengintervensi pemilu AS 2016 lalu — berasal dari konspirasi teori yang tidak terbukti. Dia juga meminta presiden Ukraina melakukan penyelidikan terhadap Joe Biden dan puteranya, Hunter.  Partai Republik memandang transkrip percakapan telepon hanya bersifat penjelasan atau membuktikan kebenaran, tapi Demokrat menilainya sebagai hal yang memberatkan.

“Di Amerika, tidak seorangpun diatas hukum,” tegas Ketua Komisi Hukum Kongres, Adam Schiff (Partai Demokrat dari California) dihadapan sidang. “Donald J. Trump telah mengorbankan keamanan negara kita dalam upaya untuk melakukan kecurangan dalam pemilihan umum mendatang. Dan karena itu, dia terus mengusahakan adanya interfensi negara asing terhadap pemilu kita, dia harus dimakzulkan.”

Ketua Kongres (DPR) Nancy Pelosi (Demokrat dari California), yang mengenakan gaun hitam, menyatakan, dihadapan sidang parlemen, dia sedih dan Trump tidak memberi kami pilihan lain. “Jika kita tidak bertindak sekarang, kita tidak melakukan tugas kita. Ini tragis bahwa tindakan-tindakan presiden, yang ‘ngawur’, telah menuat pemakzulan diperlukan.”

Banyak kalangan Partai Demokrat menyatakan pemakzulan adalah hari yang menyedihkan. Mereka juga sama sekali tidak merayakan ‘kemenangan’ pemungutan suara di Kongres itu.

Namun tetap masih terasa adanya nuansa partisan. Di sisi Partai Republik, mereka tetap dengan keras membela presiden dan menentang pemungutan suara untuk pemakzulan ini. Bahkan Barry Loudermilk, wakil rakyat dari Partai Republik, menyatakan Partai Demokrat sebenarnya sudah memutuskan untuk memecat presiden bahkan sebelum Trump menjabat secara resmi jadi presiden.

Kecaman tajam juga dilontarkan Clay Higgins (Partai Republik dari Los Angeles) dalam sidang parlemen yang tegang. “Pemakzulan ini masuk kedalam Kongres oleh kelompok sosialis yang mengancam janin hidup di perut, sosialis yang sama mengancam Amandemen Pertama (konstitusi AS) tentang hak-hak konservatif, yang juga mengancam Amandemen Kedua yang melindungi semua warga AS, dan mereka yang sejak lama sudah memutuskan mereka akan mengorganisasi dan berkonspirasi untuk menggulingkan Presiden Trump,” tukasnya.

Upaya membela mati-matian Trump oleh Partai Republik juga sangat terasa setelah satu demi satu wakil rakyat dari Republik naik ke podium sidang Kongres AS. Mereka menuduh Partai Demokrat merancang pemakzulan secara ‘memalukan’ atau melakukan ‘sandiwara’ atau ‘peradilan konyol’ dan sebagainya.

Perdebatan dalam sidang, yang berlangsung panjang, diwarnai oleh teriakan dan sorakan dari kedua belah pihak. (leo patty)

Sumber informasi: huffpost.com

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *