Batik Marunda di Ajang JFW

 Batik Marunda di Ajang JFW
Kreasi Batik Marunda di ajang Jakarta Fashion Week. (Foto: Ist)

JAKARTA Fashion Week (JFW) yang digelar 20 – 26 Oktober 2018, menyisakan catatan manis. Sebagai pekan mode tahunan terbesar dan paling bergengsi di Asia Tenggara, JFW merupakan platform universal bagi pelaku industri mode yang berhubungan dengan desain dan trend mode terkini.

Acara yang dihelat di Senayan City mengusung tema “Bhineka dan Berkarya”. Keragaman fashion di Indonesia yang semakin berkembang menjadi wajah kebinekaan dalam berkarya. Tidak kurang dari 180 desainer lokal dan internasional membawakan koleksi terbarunya. Mereka memberikan forecast 2019 yang menjadi acuan mode setahun kedepan.

Catatan menarik lainnya adalah, keikutsertaan gaya busana penduduk asli Australia, Darwin Aboriginal Arts Fair Founfation (DAAFF) di ajang JFW. Di samping, Japan Fashion Week Organization, dan Korea Content Ceative Agency. Selain itu, juga bekerjasama dengan Emerging Pakistan. Desainer dari Inggris, dan Swedia pun ikut memamerkan kreasinya.

Perancang lokal yang tampil, tidak hanya mereka yang sudah punya nama kondang, tetapi juga dihadirkan perancang muda yang baru muncul. Di sela-sela pertunjukan fashion kreasi rumah mode terkenal dan perancang senior, hadir pula kreasi busana-busana yang tercipta dari Rusunawa Marunda bertajuk Batik Marunda (BM).

Kiri: Wendy Sibarani (desainer pola gambar batik) dan Irma Gamal Sinurat desainer model busana. Kanan: Batik di tengah-tengah bangunan Rusunawa Maruda. (Foto: Ist)

Tampilan delapan busana berbahan batik tersebut tidak kalah gaya dan chic-nya dengan kreasi rancangan desainer terkenal. Siapa di balik glamour dan kasual rancangan itu? Mereka adalah para ibu rumah tangga sederhana yang tinggal di rumah susun Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Sebelumnya, mereka adalah penghuni bantaran sungai dan berbagai tempat yang terkena penggusuran.

Mereka diberi pelatihan membatik. Dimaksudkan, nantinya bisa mendapat income tambahan jika mereka sudah mahir. Membatik bisa dilakukan seusai membereskan semua urusan rumah tangganya. Wendy melihat, motif batik yang mereka bikin relatif itu-itu saja, karenanya ia banyak membantu membuatkan desain batik untuk komunitas BM (Batik Marunda). “Pada waktu itu baru mulai pelatihan, dan perlu motif yang beda dari motif yang sudah ada,” ujarnya.

Wendy menambahkan, “Kala itu saya diminta ibu Irma Gamal Sinurat menjadi volunter membantu ibu Veronica buat desain batiknya. Sedangkan penggagas pelatihan ini adalah ibu Iriana Joko Widodo, yang saat itu adalah istri Gubernur DKI. Karena kemudian pak Jokowi menjadi presiden, maka urusan pelatihan batik dilanjutkan oleh bu Veronica, istri Gubernur DKI saat itu, Basuki Tjahaja Purnama.”

Tentang keikutsertaan BM ke ajang JFW, Wendy mengatakan, hal itu dimungkinkan karena BM termasuk binaan Dekranasda. “Tanpa bantuan Dekranasda tidak mungkin kami bisa tampil di sana, apalagi harus membayar ratusan juta rupiah….,” ujar Wendy.

Wendy, Irma dan para pembatik Rusunawa Marunda, di panggung Jakarta Fashion Week. (Foto: Ist)

Adapun delapan busana yang digelar di JFW adalah menggunakan kain batik kreasi para ibu rumah tangga dan kreasi Wendy, kemudian dirancang menjadi blus, rompi, rok panjang, sarung dan blazer oleh desainer Irma Gamal Sinurat.

Ditambahkannya pula oleh wanita yang murah senyum itu, bahwa pembuatan batik di Rusunawa Marunda sudah memakai instalasi pengolahan limbah. “Jadi lebih ramah lingkungan, tidak ada pencemaran lingkungan sama sekali,” papar wanita tamatan Arsitektur Lanscape, Trisakti itu. (S. Resti Handini)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *