Resensi Buku Yudi Latif
Judul buku ini cukup imajinatif. Ada suatu yang sublim. Termaktub pelbagai susunan kata yang bisa terungkap dan menyiratkan eulogia, bahwa Indonesia ini penting, Indonesia ini potensial. Negeri ini besar, unggul. Prestisius, serta termasyhur. Dan terpacak makna serupa lainnya yang menunjukkan kegemilangan bangsa dan negara ini di masa lalu.
Kalau kita mengikuti narasi yang dipaparkan dari halaman awal hingga tamat, seakan tak berlebihan hipotesa atau pun puja-puji itu. Indonesia merupakan Jamrud katulistiwa, julukan populer yang sudah lama dikenal. Kita memang kaya sumber daya alam, tak terbantahkan! Semua energi kita miliki, dari energi fosil hingga pelbagai target energi terbarukan. ‘’Gunung’’ emas atau emas yang menggunung pun kita punya.
Lalu, di bawah judul besar buku karya Yudi Latif ini tertulis; Epos Sumbangsih Cerlang Nusantara sebagai Pandu Masa Depan.
Sungguh menggoda untuk ditelusuri, mengapa dikatakan sebagai pandu masa depan ?! Buku setebal 784 halaman terbitan Kompas Media Nusantara akhir 2025 ini bak brangkas besar yang menyimpan kekayaan dan potensi akbar Nusantara nan berserak.
Semua aset dari Sabang sampai Merauke dibeber, dihamparkan sempurna, dari yang kasat mata hingga ‘’kasat batin’’, nilai-nilai, juga seni budaya dan tradisi yang bersentuhan dengan ritual dan spiritual sakral, serta ideologi bangsa (Pancasila) yang penuh nilai-nilai. Ada pula dibahas Konferensi Asia Afrika, juga Deklarasi Djuanda yang melahirkan UNCLOS yang dikatakan bukan sekadar kemenangan diplomatik Indonesia, melainkan warisan berharga bagi peradaban maritim global.
Dan ada lagi ‘’ permata nan cemerlang kita miliki, yakni Bhineka Tunggal Ika ‘’. Sebagaimana kita tahu, ini bukan sekadar semboyan bagi bangsa Indonesia, melainkan konsep persatuan yang harmonis dalam keberagaman.
Bhineka Tunggal Ika tidak hanya menjadi fondasi Indonesia, tetapi juga telah menginspirasi bangsa-bangsa lain yang merindukan harmoni dalam keragaman. (hal 614)
Tak ketinggalan dibahas pula yang terkait masakan. Sensasi rasa yang dicecap lidah alias kulinernya dibincangkan menarik. Di antaranya adalah rendang Padang yang oleh CNN ditempatkan sebagai makanan terenak nomor satu di dunia. Pujian atas kelezatan rendang ini juga dilontarkan Anthony Bourdain, chef dan pemandu acara kuliner legendaris peraih Emmy Award. “Ini bukan sekadar makanan, melainkan simfoni cita rasa,” katanya.
Terbagi dalam 22 bagian/ Bab yang mana semua keberlimpahan anugerah alam yang terdapat di Nusantara atau Indonesia ini dilihat pengaruhnya atau signifikansinya bagi dunia, sejak bertahun-tahun silam. Sebutan Nusantara yang dimaksud sang penulisnya di sini bisa dipertukarkan dengan Indonesia, yakni wilayah teritori tanah air kita, Republik Indonesia sekarang.
Setiap bagian atau topik bahasan sungguh menarik, seperti uraian tentang geologi, geografi, oseanologi, sumber daya mineral, hutan tropis, herbal dan jamu Indonesia. Yang menonjol terkait kejayaan Nusantara adalah, peradaban maritim, dan pengaruh besar Deklarasi Djuanda, serta impresif Bhineka Tunggal Ika, dll. Tentu termasuk kemolekan alamnya.
Menarasikan tentang jelitanya alam Indonesia dalam buku ini layaknya membaca cerpen yang penuh baluran estetika.
…… Para penjelajah Belanda, dengan pena yang gemetar oleh keheranan menggambarkan Sumatera sebagai “Taman Eden yang hilang” –dimana hutan pala menguapkan aroma yang memabukkan ke udara lembab, dan pantai-pantai Bali memantulkan cahaya seperti hamparan mutiara yang tercecer (hal 214)
(Majalah) Forbes menegaskan posisi Indonesia di puncak daftar 50 negara terindah. Sementara Conde Nast Traveler pada 2025 menempatkannya di peringkat ke-8 negara tercantik—mengungguli pesona Prancis dan keeksotisan Kolombia. Ini adalah pengakuan untuk keunikan geografis yang memadukan Raja Ampat yang dijuluki “Amazon-nya lautan” oleh National Geographic, dengan sawah terasering Bali yang berkilau bak undakan tangga emas. (hal 218
Saat Alfred Russel Wallace menjejakkan kaki di hutan Maluku pada tahun 1858, ia mencatat dengan takjub bahwa seolah-olah Tuhan sedang bermain-main dengan segala bentuk kehidupan. Setiap sudut tanah menyimpan keajaiban tersendiri, dan setiap embusan angin membawa cerita yang belum pernah terdengar. Kekaguman sang naturalis Inggris ini bukanlah berlebihan—-Indonesia memang menghadirkan mosaik keindahan alam yang Istimewa dan berharga bagi dunia. (hal 219)
Dalam pengantar bukunya, menurut Yudi Latif yang pernah bertugas sebagai Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila. Ini bukan jenis buku ilmiah akademik, tetapi sebuah kisah agung (epos) yang lahir dari fakta dan wacana ilmiah.
Jadi selaras tentunya jika referensinya berderet-deret, ratusan buku, jurnal, serta pelbagai media cetak, dan siber. Konon, cukup lama digarapnya, 6 tahun (Kata Yudi Latif dalam sebuah wawancara di sebuah podcast), itu pun diakui pula dipermudah oleh artificial intelligence (AI – kecerdasan buatan) sehingga ia terbantu lebih cepat dalam mendulang data.
Kendati agak lama, kita sebagai pembaca, berpandangan, tampaknya sudah “terbayar” dengan substansi yang dirajut dan narasi yang disuguhkan, sehingga menghadirkan keasyikan dalam membacanya. Karena menyibak dan memperdalam cakrawala pemikiran dan imajinasi-imajinasi. Olah bahasanya pun menarik, jadi enak dibaca. Meminjam jargon majalah Tempo, Enak dibaca dan perlu.
Saya kira sangat perlu, karena bukan hanya potensial mengungkapkan hal-hal yang spektakuler tentang Nusantara dan dampak besarnya bagi dunia. Namun yang tak kalah penting buku ini sangat menginspirasi, mengingatkan kita akan harkat dan martabat kita sebagai bangsa yang besar.
Dalam pengantarnya juga dipertegas, sari pati yang diharapkan dari buku ini bukan hanya menjadi cermin yang memantulkan kebesaran masa lalu, melainkan juga lentera yang menggugah kesadaran bangsa Indonesi agar kembali menemukan orientasi dan kebanggaan dirinya.
Maka wajarlah jika, kata sang penulis, Buku ini dipersembahkan bagi siapapun yang terpanggil untuk memahami sejarah panjang kealaman, kemanusian, dan peradaban Nusantara sebagai taman sari dunia dan akar jati diri bangsa. Ia menyapa pembaca umum, pelajar, mahasiswa, sekaligus relevan dalam konteks pembangunan bangsa, ……
Siapapun yang membaca dan mendalami apa yang terkandung di dalamnya, terkait akar jati diri bangsa, saya kira bisa kita temukan. Mungkin tepatnya bukan kita temukan, tetapi kita bangkitkan karena barangkali selama ini kurang kita sadari keberlimpahan anugerah kekayaan di bumi Nusantara ini. Atau karena cara pengelolaannya juga yang belum tepat.
Pembahasan tentang geologi pada bagian awal buku ini, misalnya, sudah menorehkan kekaguman, betapa dari kekayaan mineral itu memberikan sumbangsih dan bisa mengubah peradaban global, meski sebelumnya proses geologi itu telah meletupkan bencana demi bencana.
Proses geologi yang membentuk Nusantara tidak hanya melahirkan bencana, tetapi juga mengukir warisan kekayaan mineral yang secara kronologis mengubah peradaban global. Timah dari granit Bangka Belitung telah berperan penting sejak abad ke-18, menggerakkan revolusi teknologi – dari kaleng makanan yang mengubah pola konsumsi global hingga solder elektronik yang menyatukan sirkuit di setiap gawai modern…..(hal 11)
Usai membaca buku ini, kesan kita barangkali tak jauh beda, yakni bangga dan tunduk syukur. Nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan?! Menyitir Alkitab (QS. Ar Rahman) ini tampaknya selaras untuk menganalogikan keberlimpahan resources dan peradaban Indonesia kita.
Lantas, dalam renung sejenak, apa yang disajikan buku ini seperti realitas tersendiri tentang Indonesia. Himpunan kekayaan tanah air yang tercatat secara faktual memang nyata, termasuk nilai-nilai kebijaksanaan, dan diplomasi. Dan hal itu besar pula pengaruhnya terhadap peradaban global. Namun, fakta Indonesia yang kita alami, kehidupan yang kita jalani dan rasakan, adalah seperti realitas Indonesia yang lain. Karena kehidupan masyarakatnya belum merepresentasikan sebagaimana cermin negara kaya.
Mengapa? Barangkali memang ada kemiripan dengan lagu lama grup Bimbo, Balada Serpihan Taman Surga. Dalam syairnya digambarkan, negeri ini seperti untaian permata, namun kehilangan barokahnya. Karena banyak kekayaan yang dijarah.
Yang dijarah / dikorupsi bukan sumber daya alam saja, melainkan juga kejujuran. Dan keadilan pun seperti melayang … hilang. Dan senyap !
Meski begitu kita kudu selalu optimis tentunya, bahwa bangsa ini akan tercerahkan, dan para pemimpin kita mampu mengemban amanah serta integritas.
Indonesia yang makmur dan sejahtera sedang kita tuju, dan buku ini bisa menjadi inspirasi, dan lentera, serta panduan menuju Indonesia gemilang. Menuju imperium masa depan. (Iswati)
